4 tahun belum genap sejak gelar sarjana itu tersandang. Cie cie. Padahal ga penting banget ya, apalah arti sebuah gelar pendidikan tanpa sebuah karya yang nyata bermanfaat bagi banyak orang.
Sekian jauh perjalanan telah dilalui, terhitung berapa kilometer tersambangi. Beberapa kota sudah kusinggahi.
Akibat dari sebuah pilihan, inilah aku hari ini.
Seorang perempuan 26 tahun, lulusan dari perguruan tinggi negeri yang cukup ternama di Jawa Timur, kalo di Indonesia aku yakin tidak semua orang mengetahuinya. Terdampar di Jakarta, menjemput rizki di kota seribu wajah sembari menuntut ilmu kehidupan yang tak pernah habis. Tetap bukan siapa-siapa dan bukan apa-apa.
Dan bila aku berdiri, tegak sampai hari ini. bukan karenaku atau hebatku. Semua karena cinta, semua karena cinta.
Semua karena cinta Allah.
Ya, pilihanku atas kota Malang telah mengantarkanku pada hidayahNya. Inilah skenario terindah yang lama kusadari saat kutemukan orang-orang yang bersaudara karenaNya.
Tahun pertama masa pencarian jati diri, memberiku kesempatan untuk mengenal berbagai macam manusia, organisasi kampus, non kampus, multi level marketing, aliran-aliran sesat dan banyak lagi.
Subhanallah, begitu Allah sangat menyayangi ku, menjagaku sampai ak pada pilihanku. Memilih satu di antara banyak, memilih lingkungan, memilih masa depan. Pola pikir yang berubah & aku merasa merdeka, terbebas. Tolak ukur seseorang bukan karena kepintarannya, bukan karena ketampanannya, bukan pula karena banyak harta. Semua fana & menjadi tak berarti.
Prestasi kuliah, yang menurutku biasa-biasa saja, di kisaran tiga koma pada setiap semesternya. Kenapa biasa saja, ya karena banyak juga yang punya IP sama. It's a common. Belajar tentang sesuatu yang tidak terlalu disukai selama ini, kisaran angka hitungan dan seterusnya. Akuntansi yang berjejer dari Pengantar 1, intermediet, advance, seminar, audit, investasi. Angka semua.
OMG, lebih senang aku ngomong daripada ngitung. :D Sempet nyesel, kenapa ga milih jurusan hukum aja.
Hei, jangan mimpi. terimalah kenyataan hidup, nikmati dan syukuri yang telah kau miliki. Jalani dengan lapang.
Yah, tak dapat dipungkiri aku menjalani dengan setengah hati, just karena hanya aku pengen kuliah saja. Pelan tapi pasti, aku membuka diri untuk mencintai jurusan ini. Yang jauh dari bayangan ku, jauh dari prediksi apa yang akan aku pelajari.
Konsekuensi akan sebuah pilihan adalah menjalani & mencintainya, menerima.
Sempat terlintas, ikut SPMB lagi atau tes USM STAN lagi. Lah, tapi drmana duitnya.
Uang beasiswa cukup untuk bertahan hidup & biaya kuliah sebulan. Dari mana lagi.
Pilihan yang ada adalah menyelesaikan apa yang sudah dimulai. Ya, jika belum mencintai belajarlah mencintai.
Sampai pada semester kelima, barulah aku benar-benar cinta pada jurusan ini. He he he sejak ketemu matkul Kepemimpinan, Perilaku Organisasi. I love this major so much!
I love it...
Saking mencintainya, aku baru resmi meninggalkannya pada semester ke sepuluh di tahun kelima sejak kedatanganku di Malang. Sssttt jangan bilang siapa-siapa yak!he he :D
Nekad bawa diri, pulang bawa tambahan tiga huruf*) dibelakang nama dan dua lembar kertas (ijazah & transkrip). Akhirnya aku BISA!
Aku BISA, kamu pasti lebih BISA lagi!
*tiga huruf, SAB yang sering diplesetkan jadi Sarjana Apa Bukan. Padahal asli kepanjangannya adalah Sarjana Administrasi Bisnis.
Bangga, karena aku meraihnya dengan cucuran keringat & air mata.
Bangga, tak berarti selalu menuliskannya di setiap menulis nama diri.
Bangga, karena Allah meninggikan beberapa derajat orang yang berilmu.
Subhanallah walhamdulillah
Jakarta, 27 Februari 2012
sembari menanti rizqi dunia akhirat yang datang dari arah yang tiada disangka-sangka
Senin, 27 Februari 2012
Selasa, 03 Januari 2012
2012 is coming..
Hingar bingar pergantian taun belum lah usai, hingga hari ke-3 di tahun yang baru ini, 2012. Sesekali masih ada petasan maupun kembang api yg menyala.
jedder.. jedder.. jedder...
bunyi yang tak mungkin diredam, kecuali memang tak dinyalakan. Membuat khawatir para ibu yang sedang menidurkan anaknya. Juga yang lagi nungguin kerabatnya yg sakit di rumah sakit.
Kita telah kehilangan 3 hari di tahun 2012, namun masih mempunyai 362 hari eh 363 hari krn taun ini adalah taun kabisat yang jumlah harinya ada 29 di bulan ke-2. Waktu itu bukanlah waktu yang pendek untuk dilewatkan tanpa aktivitas, namun bukan waktu yang cukup pula untuk melakukan semua keinginan kita.
Resolusi telah dibuat, ibarat gendang perang telah ditabuh. Mulai hari ini pula, kita berperang di medan 2012. Menghadapi segala macam rintangan hambatan & juga gangguan. Ujian, keberhasilan, kegagalan, kesedihan, kegalauan telah menanti. Siapkan sikap terbaik dalam menghadapinya!
Resolusiku di tahun ini:
Keluarga
Kesehatan
Karir
Ya cukup tiga saja, mewakili semua.
Keluarga, mewakili lingkaran orang-orang terdekat kita. Terutama adalah kedua orang tua. Keridhoan mereka sangat penting untuk kebahagiaan dunia akhirat. Berpikir pula. kemungkinan di tahun ini ada seseorang yang akan masuk ke lingkaran tersebut dan membuat lingkaran ini menjadi lebih besar. I hope so!
Kesehatan, berjalan ke dalam diri menengok apakah jasad & ruhaniku sehat wal afiat. Melakukan perbaikan di sana-sini, yang intinya menambah kualitas hidup. Begitu?!
Karir, sesuatu yang membuat diri lebih berarti. Karir bukan semata pekerjaan di kantor di belakang meja berkutat dengan sejenis benda yang bernama komputer. Oh, sempit sekali kalo definisinya hanya sebatas itu. Apa yang bisa dicapai taun ini, melanjutkan misi taun lalu yang belum kesampaian & membuat misi baru. Bicara karir selalu menyenangkan, karena bagiku ini seperti upgrade. Yang tadinya tidak bisa menjadi bisa, yang tadinya trauma menjadi tidak trauma.
Harapan dari semua harapan, tahun ini lebih baik dari tahun yang lalu. Menjadi lebih bermanfaat dari sebelumnya. Tentunya ada variabel terukurnya.
2011, aku belajar mengatasi trauma di air meski belum 100% berhasil tapi sudah lumayan.
Kebahagiaan terbesar adalah melihat orang lain bahagia. Tapi membuat orang lain bahagia perlu sarana, senyum saja tidak cukup tunjukkan dengan prestasi, perhatian dan kasih sayang.
Goal terpendek: memiliki pekerjaan yang semakin mendekatkan diri pada Nya & keluarga.
Bismillah
Minggu, 11 September 2011
Sampai (dimana)...?
11 september 2011, hari ke 254 di tahun 2011, bulan ke 9. tidak terasa sungguh, 101 hari lagi kita akan meninggalkan 2011 menuju 2012. Masih ingatkah akan janji kita 255 hari yang lalu, saat evaluasi diri & membuat resolusi.
Entahlah, berapa baris yang tertulis, agar terwujud maka perlu di visualisasikan.
Banyak hal & moment yang telah dilalui, kelahiran kematian & pernikahan. Semuanya tentang perubahan status. Ya, dari yang tidak ada menjadi ada, dari yang ada menjadi tiada, dari yang sendiri menjadi bersama.
Sudah seberapakah capaian kita sebagai individu?
Berapa banyak kebaikan yang sudah ditabur hingga hari ke 254 ini?
Kuantitas & kualitas diri, keluarga, capaian karir?
hmmm, jangan sampai kita menjadi orang-orang yang merugi. Hanya sekedar membalik lembaran kalender ketika sudah berganti bulan, tanpa melakukan apa-apa
#menantikeajaiban100hariterakhirtahun2011
Entahlah, berapa baris yang tertulis, agar terwujud maka perlu di visualisasikan.
Banyak hal & moment yang telah dilalui, kelahiran kematian & pernikahan. Semuanya tentang perubahan status. Ya, dari yang tidak ada menjadi ada, dari yang ada menjadi tiada, dari yang sendiri menjadi bersama.
Sudah seberapakah capaian kita sebagai individu?
Berapa banyak kebaikan yang sudah ditabur hingga hari ke 254 ini?
Kuantitas & kualitas diri, keluarga, capaian karir?
hmmm, jangan sampai kita menjadi orang-orang yang merugi. Hanya sekedar membalik lembaran kalender ketika sudah berganti bulan, tanpa melakukan apa-apa
#menantikeajaiban100hariterakhirtahun2011
Sabtu, 23 Juli 2011
Minggu, 08 Mei 2011
Ini (bukan) pilihanku! Dan aku BISA! - part 1
Saat ada dua buah jalan di depan kita, pasti lah hanya satu yang akan di lalui. Ya, pasti! Karena tak akan mungkin kita melaluinya sekaligus. Ya secara, badan cuma satu masak mau dibelah dua.
Dua jalan itu, sebelah kiri tertulis di papan hijau dengan huruf putih JL.IDEALIS & jalan yang kanan tertulis JL.REALISTIS dengan warna & bentuk tulisan yang identik.
8 tahun yang lalu, berat saat harus kuputuskan untuk memilih jalan yang sebelah kanan. Ya, menjadi realistis untuk sebuah cita-cita (idealis) terasa sangat menyakitkan.
Menyakitkan saat gerbang cita-cita sudah nyaris di depan mata, tinggal kaki melangkah masuk.
Saat memutuskan untuk melanjutkan studi ke perguruan tinggi, jalan idealis itu terhambat dengan BIAYA.
Ya, saat ku dinyatakan diterima dalam Ujian Masuk UGM 2003 pada jurusan Ilmu Sosiatri pada saat itu juga hatiku mencelos. Aku bingung apakah aku bahagia ataukah harus sedih.
Aku tahu, aku sadar diterima di jurusan apapun di UGM aku ga bakalan kuat bayar. Bayar pake apa coba? Kalo tetep maksa juga, bisa jual tanah deh, tanah tetangga he he. Itupun kalo ada yg mau beli & cukup buat bayar. melas banget ya guys!
Uang Pangkal, BOP, SPMA & sederet rincian biaya semakin menyesakkan. Padahal jumlahnya waktu itu di tahun 2003 hanya sebesar 1,3juta. Ya kalo ga ada uangnya ga masalah. Lah ini, emang mau bayar pake apa.
Minjem, ya klo bisa balikin. Nyolong, dosa tau! No money, nodong. Podho wae, sami mawon. Yo wis lah untuk jalan idealis ini akhirnya aku menyerah, lebih tepatnya terpaksa untuk menyerah. "Eh, ga ada yang maksa kamu", kata si keadaan seperti mencibirku dengan pbbbrrrttt-nya. Padahal jelas-jelas tu si keadaan yang jadi biang keroknya.
Udah ah, bukan waktunya menyalahkan. lagian siapa yang bakalan jamin kamu sukses jika jadi anggota ASU alias anak sospol UGM. Ga ada kan? Ya sudah sih terima saja. Toh masih ada kesempatan kedua, ketiga, keempat, kelima, keenam, ketujuh.
Akhirnya, say good bye to ilmu sosiatri. Ku akan mengenangmu selalu, saat ku tatap lekat surat penerimaan yang berkop hot-stamp emas itu (masih tersimpan rapi sampai sekarang, meskipun sudah expired).
Aku menyerah bukan tanpa usaha, sudah kucoba menghubungi seorang bapak yg sebelumnya pernah ke sekolah & presentasi beasiswa anugrah -beasiswa tahun pertama kuliah. Ada secercah harapan. Setidaknya biaya tahun pertama akan terbantu. Apa hasilnya?
Pupus. Sudah. Pupus sudah. Ternyata program beasiswa itu sudah tidak ada lagi. Kasian deh gw! @##% pletak, seperti kena ketapel aja.
Berganti program & sistem baru. Menjadi beasiswa etos, & hanya untuk jurusan yang prospek (versi mana ku tak tau) & yang pasti jurusan sosiatri tidak masuk ke dalamnya. So, what will I do next?
Yup plan B, harus dapat ini beasiswa. Banting stir deh, jadi oportunis. Nah kalo mau dapat beasiswanya mesti penuhi syaratnya. Aku harus kuliah apa pun jurusannya, asal sesuai direkomendasikan. Ya, apapun. Menakar kemampuan diri & persiapan mepet untuk SPMB. Akhirnya, bismillah.. kupilih salah satu jurusan yang berprospek itu. Setelah sebelumnya menyaring jurusan demi jurusan dengan kriteria sederhana, 1. bukan jurusan di fakultas ekonomi, hukum, 2. kemungkinan biaya praktikum tidak mahal,3. biaya kuliah murah (biar kalo udah ga dpt beasiswa tetep bisa bayar). Proses audisi pun berlangsung. List jurusan dicoret satu-satu. Eng ing eng..
Dan kemudian terpilihlah jurusan Ilmu Administrasi Niaga untuk kupasang sebagai pilihan kedua, pilihan satu tetap psikologi UGM. Masih penasaran ma jurusan ini, karena UM kemaren ga tembus. Maybe a miracle suddenly hit me!
Jurusan dapat, tapi di universitas mana? haloow...
Ada 4 pilihan, 1. Universitas Indonesia, Jakarta? kebayang nih anak kampung culun ke jakarta. Oh, no! D jakarta apa2 mahal. GUGUR. 2. UNPAD, bandung. sebelas dua belas ma jakarta. Mahal & tidak ada famili pula. CORET! 3. UNDIP, semarang. dekat dengan jogja, ada famili tapi tidak dekat atau 4. UNIBRAW, malang. cukup dekat juga, ada famili & lebih dekat krn kakak jg numpang disana. Sip, endingnya akhirnya terpilihlah UNIBRAW sebagai universitas tujuannya.
Jika dirangkai menjadi Jurusan Ilmu Administrasi Niaga Universitas Brawijaya.
Memilih jurusan yang jauh sekali dari Jogja, apa tidak salah. Cost akan tinggi krn harus memikirkan biaya hidup. Lha itu tadi kan sudah dijelaskan. Okey? Ok, lanjuttt.
Di malang, ada famili. Ya setidaknya aku merasa tentram. & jika sudah basah mengapa tidak nyebur sekalian. Sekalian jauh dari rumah, sekalian mati2an. Pantang pulang jika tidak tuai kesuksesan. Ceileh, sok idealis banget. Udah lah yang penting bisa diterima dulu, yg lain diurus belakangan.
FYI, orang tua sempat keberatan aku melanjutkan kuliah. Karena, 1. biaya kuliah mahal, 2. jika berhenti di tengah jalan, takut q jadi stress dan akhirnya jadi penghuni RS Pakem (RSJ ternama di DIY-Jateng).
So, what gitu lho! Orang tua ditaati harus, tapi kalo unt kemajuan kenapa tidak dibuktikan kalo kita bisa. kuncinya OPTIMIS, yakin BISA. Padahal dalam hati agak ciut juga. tapi gengsi ahh, udah kepalang tanggung nekadnya.
Ya, berbekal apply beasiswa etos. pada waktu itu pamfletnya di tempel di depan kantin tengah dekat Aula Katamso. Coba2 siapa tau berhasil.
Ditunggu-ditunggu akhirnya keluar juga pengumuman SPMB, setelah sebelumnya ada pengumuman tes STAN yang tidak tercantum namaku.hiks aku sedih banget, kuliah gratis terlewat.
Dalam hatiku saat itu, kalo SPMB pun tidak diterima ku akan pulang kampung & akan beternak bekicot. Efek membaca buku ternak bekicot, wehew.
Pulang kampung? Ya, pada saat itu aku sedang berada di Malang. Kebetulan seminggu sebelumnya ku mengikuti tes beasiswa jepang di Surabaya. Sekalian ke Malang, sudah dekat hemat ongkos krn kemungkinan tidak akan pernah kesitu lagi.
Tapi rencana Allah sungguh indah, di saat ku merencanakan kepulangan ke Jogja untuk melihat pengumuman di sekolah. Pengumuman online ternyata H-1 sudah dirilis.
Hasilnya, tidak terlalu kaget karena sudah ada hitungan prediksi sebelumnya, diterima di 743446, ya itu kode jurusan Ilmu Administrasi Niaga. Yah, kok diterima sih. Dueeng!
Padahal udah berharap ga diterima & bisa mengulang taun depan. Huuh dasar ya kamu ni manusia ga tau diuntung, diterima kok mengeluh. Padahal itu rejeki. Banyak tuh di luar sana yang kecewa karena ga diterima. Kamu ini! thuk.. thuk... thuk.. kalo malaikat boleh ngomel, pasti aq udah diomelinya waktu itu.
to be continued...
Dua jalan itu, sebelah kiri tertulis di papan hijau dengan huruf putih JL.IDEALIS & jalan yang kanan tertulis JL.REALISTIS dengan warna & bentuk tulisan yang identik.
8 tahun yang lalu, berat saat harus kuputuskan untuk memilih jalan yang sebelah kanan. Ya, menjadi realistis untuk sebuah cita-cita (idealis) terasa sangat menyakitkan.
Menyakitkan saat gerbang cita-cita sudah nyaris di depan mata, tinggal kaki melangkah masuk.
Saat memutuskan untuk melanjutkan studi ke perguruan tinggi, jalan idealis itu terhambat dengan BIAYA.
Ya, saat ku dinyatakan diterima dalam Ujian Masuk UGM 2003 pada jurusan Ilmu Sosiatri pada saat itu juga hatiku mencelos. Aku bingung apakah aku bahagia ataukah harus sedih.
Aku tahu, aku sadar diterima di jurusan apapun di UGM aku ga bakalan kuat bayar. Bayar pake apa coba? Kalo tetep maksa juga, bisa jual tanah deh, tanah tetangga he he. Itupun kalo ada yg mau beli & cukup buat bayar. melas banget ya guys!
Uang Pangkal, BOP, SPMA & sederet rincian biaya semakin menyesakkan. Padahal jumlahnya waktu itu di tahun 2003 hanya sebesar 1,3juta. Ya kalo ga ada uangnya ga masalah. Lah ini, emang mau bayar pake apa.
Minjem, ya klo bisa balikin. Nyolong, dosa tau! No money, nodong. Podho wae, sami mawon. Yo wis lah untuk jalan idealis ini akhirnya aku menyerah, lebih tepatnya terpaksa untuk menyerah. "Eh, ga ada yang maksa kamu", kata si keadaan seperti mencibirku dengan pbbbrrrttt-nya. Padahal jelas-jelas tu si keadaan yang jadi biang keroknya.
Udah ah, bukan waktunya menyalahkan. lagian siapa yang bakalan jamin kamu sukses jika jadi anggota ASU alias anak sospol UGM. Ga ada kan? Ya sudah sih terima saja. Toh masih ada kesempatan kedua, ketiga, keempat, kelima, keenam, ketujuh.
Akhirnya, say good bye to ilmu sosiatri. Ku akan mengenangmu selalu, saat ku tatap lekat surat penerimaan yang berkop hot-stamp emas itu (masih tersimpan rapi sampai sekarang, meskipun sudah expired).
Aku menyerah bukan tanpa usaha, sudah kucoba menghubungi seorang bapak yg sebelumnya pernah ke sekolah & presentasi beasiswa anugrah -beasiswa tahun pertama kuliah. Ada secercah harapan. Setidaknya biaya tahun pertama akan terbantu. Apa hasilnya?
Pupus. Sudah. Pupus sudah. Ternyata program beasiswa itu sudah tidak ada lagi. Kasian deh gw! @##% pletak, seperti kena ketapel aja.
Berganti program & sistem baru. Menjadi beasiswa etos, & hanya untuk jurusan yang prospek (versi mana ku tak tau) & yang pasti jurusan sosiatri tidak masuk ke dalamnya. So, what will I do next?
Yup plan B, harus dapat ini beasiswa. Banting stir deh, jadi oportunis. Nah kalo mau dapat beasiswanya mesti penuhi syaratnya. Aku harus kuliah apa pun jurusannya, asal sesuai direkomendasikan. Ya, apapun. Menakar kemampuan diri & persiapan mepet untuk SPMB. Akhirnya, bismillah.. kupilih salah satu jurusan yang berprospek itu. Setelah sebelumnya menyaring jurusan demi jurusan dengan kriteria sederhana, 1. bukan jurusan di fakultas ekonomi, hukum, 2. kemungkinan biaya praktikum tidak mahal,3. biaya kuliah murah (biar kalo udah ga dpt beasiswa tetep bisa bayar). Proses audisi pun berlangsung. List jurusan dicoret satu-satu. Eng ing eng..
Dan kemudian terpilihlah jurusan Ilmu Administrasi Niaga untuk kupasang sebagai pilihan kedua, pilihan satu tetap psikologi UGM. Masih penasaran ma jurusan ini, karena UM kemaren ga tembus. Maybe a miracle suddenly hit me!
Jurusan dapat, tapi di universitas mana? haloow...
Ada 4 pilihan, 1. Universitas Indonesia, Jakarta? kebayang nih anak kampung culun ke jakarta. Oh, no! D jakarta apa2 mahal. GUGUR. 2. UNPAD, bandung. sebelas dua belas ma jakarta. Mahal & tidak ada famili pula. CORET! 3. UNDIP, semarang. dekat dengan jogja, ada famili tapi tidak dekat atau 4. UNIBRAW, malang. cukup dekat juga, ada famili & lebih dekat krn kakak jg numpang disana. Sip, endingnya akhirnya terpilihlah UNIBRAW sebagai universitas tujuannya.
Jika dirangkai menjadi Jurusan Ilmu Administrasi Niaga Universitas Brawijaya.
Memilih jurusan yang jauh sekali dari Jogja, apa tidak salah. Cost akan tinggi krn harus memikirkan biaya hidup. Lha itu tadi kan sudah dijelaskan. Okey? Ok, lanjuttt.
Di malang, ada famili. Ya setidaknya aku merasa tentram. & jika sudah basah mengapa tidak nyebur sekalian. Sekalian jauh dari rumah, sekalian mati2an. Pantang pulang jika tidak tuai kesuksesan. Ceileh, sok idealis banget. Udah lah yang penting bisa diterima dulu, yg lain diurus belakangan.
FYI, orang tua sempat keberatan aku melanjutkan kuliah. Karena, 1. biaya kuliah mahal, 2. jika berhenti di tengah jalan, takut q jadi stress dan akhirnya jadi penghuni RS Pakem (RSJ ternama di DIY-Jateng).
So, what gitu lho! Orang tua ditaati harus, tapi kalo unt kemajuan kenapa tidak dibuktikan kalo kita bisa. kuncinya OPTIMIS, yakin BISA. Padahal dalam hati agak ciut juga. tapi gengsi ahh, udah kepalang tanggung nekadnya.
Ya, berbekal apply beasiswa etos. pada waktu itu pamfletnya di tempel di depan kantin tengah dekat Aula Katamso. Coba2 siapa tau berhasil.
Ditunggu-ditunggu akhirnya keluar juga pengumuman SPMB, setelah sebelumnya ada pengumuman tes STAN yang tidak tercantum namaku.hiks aku sedih banget, kuliah gratis terlewat.
Dalam hatiku saat itu, kalo SPMB pun tidak diterima ku akan pulang kampung & akan beternak bekicot. Efek membaca buku ternak bekicot, wehew.
Pulang kampung? Ya, pada saat itu aku sedang berada di Malang. Kebetulan seminggu sebelumnya ku mengikuti tes beasiswa jepang di Surabaya. Sekalian ke Malang, sudah dekat hemat ongkos krn kemungkinan tidak akan pernah kesitu lagi.
Tapi rencana Allah sungguh indah, di saat ku merencanakan kepulangan ke Jogja untuk melihat pengumuman di sekolah. Pengumuman online ternyata H-1 sudah dirilis.
Hasilnya, tidak terlalu kaget karena sudah ada hitungan prediksi sebelumnya, diterima di 743446, ya itu kode jurusan Ilmu Administrasi Niaga. Yah, kok diterima sih. Dueeng!
Padahal udah berharap ga diterima & bisa mengulang taun depan. Huuh dasar ya kamu ni manusia ga tau diuntung, diterima kok mengeluh. Padahal itu rejeki. Banyak tuh di luar sana yang kecewa karena ga diterima. Kamu ini! thuk.. thuk... thuk.. kalo malaikat boleh ngomel, pasti aq udah diomelinya waktu itu.
to be continued...
Selasa, 26 April 2011
Antara Jakarta, hujan dan macet...
Sudah beberapa hari ini cuaca Jabodetabek tidak menentu...
Panas terik menyengat dari pagi hingga siang hari, tak lama hujan deras di sore hari hingga malam yang kadang diselingi dengan sang angin yang menghempas...Area sebaran hujan pun tidak merata, dari 17 km trayek home-office, pernah kehujanan hanya di 500m arah rumah. Penuh dengan kejutan.
Tidak menjadi masalah, jika pada saat hujan sudah berada di rumah. Tentu nyaman, aman, tenang, tentram, hangat. Ya, kecuali kalo rumahnya bocor..he he.. Pasti dengan sigapnya memasang panci, baskom atau apa saja yang bisa menampung tuh air kiriman dari langit. Seringkali turunnya hujan saat sebagian besar dari kita sedang beraktivitas di luar rumah. Pulang kerja, main ke mall, les atau masih di sekolah.
Sudah menjadi rahasia umum. jika turun hujan -pagi atau sore- jalanan di jakarta menjadi lebih macet dari biasanya. Maklum.. Apalagi jika banjir datang tanpa permisi. Satu titik ruwet tergenang banjir, lumpuh lah ibukota. Seperti yang pernah terjadi di sebagian jalan tol akhir tahun 2010 lalu.
Kenapa tuh bisa begitu?
1. Jakarta tuh kota solider.he he he
satu tempat yang macet aja, yang lain ikutan empati macetnya.
Benar2 luar biasa, mematahkan stereotip selama ini bahwa jakarta tuh tempatnya paham individualis bercokol & berkembang biak.
Yah, karena penulis tidak sepakat klo jakarta disebut ruwet.
Yang ruwet tuh orangnya kali bukan kotanya.
2. Adanya 'payung besar' jalanan. It's named, "kolong"
Spontan tanpa ada yang memberi komando, hampir setengah jalan di yang di bawah kolong jalan selalu dipadati dengan sepeda motor. Kalo jalan sih tidak masalah, lah ini berhenti. Rupanya motor2 ini takut make-up nya luntur, sehingga harus mencari perlindungan di bawah kolong. Mulai dari motor yang necis licin sampe yang butut juga ada. Kondisi ini cukup menyulitkan penulis untuk memacu motor dengan kecepatan di atas 40km/jam. Kejelian mata amat sangat diperlukan sekali. karena rata-rata dari para motor yg ngeyup ini tidak menyalakan lampunya. Siap-siap nabrak kalo terlalu ambil kiri. Mind your drive!
3. Berkurangnya kecepatan berkendara
Bukan karena performa mesin yg turun, tapi karena jarak pandang terbatas. Ya bo', pengemudi kendaraan2 ini kan manusia -yang lengkap dengan segala kekurangan, sempurna dengan ketidaksempurnaannya- jadi harap maklum kalo daya akomodasi retina agak berkurang. Selain karena takut ban selip karena jalanan licin.
Penggunaan jas hujan tipe ponco juga berpengaruh dengan hambatan angin. Iya toh?? Mosok sih?? :D
4. Ngambeknya si pengatur lalu lintas
Mungkin karena sering tidak ditaati, akhirnya si dia ngambek pas saat2 genting.
Walhasil, arus perempatan pun tidak berarus alias berhenti, mandeg jegrek.. Jalan ya syukur, ga jalan ya udah. Beruntungnya para bikers, yang bisa nyelip kesana kemari.
Kalo udah begini, biasanya bapak2 polisi yang baik hati itu turun tangan.
Karena lampunya ganti warna jadi item, semua kalang kabut. Gmn kalo lampunya ilang ya!
Yah segini aja dulu ulasannya. Kalo ada yang mau nambahi dengan pengalaman seru lainnya dipersilahkan.
Sampai jumpa!
**sdg berpikir untuk beli jas hujan yg bebas hujan. Nah, lho?? emang ada ya.@%$%@@
Panas terik menyengat dari pagi hingga siang hari, tak lama hujan deras di sore hari hingga malam yang kadang diselingi dengan sang angin yang menghempas...Area sebaran hujan pun tidak merata, dari 17 km trayek home-office, pernah kehujanan hanya di 500m arah rumah. Penuh dengan kejutan.
Tidak menjadi masalah, jika pada saat hujan sudah berada di rumah. Tentu nyaman, aman, tenang, tentram, hangat. Ya, kecuali kalo rumahnya bocor..he he.. Pasti dengan sigapnya memasang panci, baskom atau apa saja yang bisa menampung tuh air kiriman dari langit. Seringkali turunnya hujan saat sebagian besar dari kita sedang beraktivitas di luar rumah. Pulang kerja, main ke mall, les atau masih di sekolah.
Sudah menjadi rahasia umum. jika turun hujan -pagi atau sore- jalanan di jakarta menjadi lebih macet dari biasanya. Maklum.. Apalagi jika banjir datang tanpa permisi. Satu titik ruwet tergenang banjir, lumpuh lah ibukota. Seperti yang pernah terjadi di sebagian jalan tol akhir tahun 2010 lalu.
Kenapa tuh bisa begitu?
1. Jakarta tuh kota solider.he he he
satu tempat yang macet aja, yang lain ikutan empati macetnya.
Benar2 luar biasa, mematahkan stereotip selama ini bahwa jakarta tuh tempatnya paham individualis bercokol & berkembang biak.
Yah, karena penulis tidak sepakat klo jakarta disebut ruwet.
Yang ruwet tuh orangnya kali bukan kotanya.
2. Adanya 'payung besar' jalanan. It's named, "kolong"
Spontan tanpa ada yang memberi komando, hampir setengah jalan di yang di bawah kolong jalan selalu dipadati dengan sepeda motor. Kalo jalan sih tidak masalah, lah ini berhenti. Rupanya motor2 ini takut make-up nya luntur, sehingga harus mencari perlindungan di bawah kolong. Mulai dari motor yang necis licin sampe yang butut juga ada. Kondisi ini cukup menyulitkan penulis untuk memacu motor dengan kecepatan di atas 40km/jam. Kejelian mata amat sangat diperlukan sekali. karena rata-rata dari para motor yg ngeyup ini tidak menyalakan lampunya. Siap-siap nabrak kalo terlalu ambil kiri. Mind your drive!
3. Berkurangnya kecepatan berkendara
Bukan karena performa mesin yg turun, tapi karena jarak pandang terbatas. Ya bo', pengemudi kendaraan2 ini kan manusia -yang lengkap dengan segala kekurangan, sempurna dengan ketidaksempurnaannya- jadi harap maklum kalo daya akomodasi retina agak berkurang. Selain karena takut ban selip karena jalanan licin.
Penggunaan jas hujan tipe ponco juga berpengaruh dengan hambatan angin. Iya toh?? Mosok sih?? :D
4. Ngambeknya si pengatur lalu lintas
Mungkin karena sering tidak ditaati, akhirnya si dia ngambek pas saat2 genting.
Walhasil, arus perempatan pun tidak berarus alias berhenti, mandeg jegrek.. Jalan ya syukur, ga jalan ya udah. Beruntungnya para bikers, yang bisa nyelip kesana kemari.
Kalo udah begini, biasanya bapak2 polisi yang baik hati itu turun tangan.
Karena lampunya ganti warna jadi item, semua kalang kabut. Gmn kalo lampunya ilang ya!
Yah segini aja dulu ulasannya. Kalo ada yang mau nambahi dengan pengalaman seru lainnya dipersilahkan.
Sampai jumpa!
**sdg berpikir untuk beli jas hujan yg bebas hujan. Nah, lho?? emang ada ya.@%$%@@
Jumat, 22 April 2011
Perjalanan yang (tak) berujung
Hari ini dengan segenap tenaga aku bisa berdiri tegak. Dengan semangat yang senantiasa terbarukan, untuk menjadi orang yang lebih baik pada setiap kesempatan.
Sungguh jalan-jalan yang telah kulalui tidak selalu mulus & lurus, justru sering mendaki & terjal Disitulah letak kenikmatan yang saat ini dapat dirasakan.
Jatuh bangun itu adalah hal yang biasa. Sakit memang pada saat terjatuh, tapi menjadi tak terasa saat mulai bangkit & berhasil bangun kemudian berdiri lagi.
Sesekali rasa sesal juga pernah terbit, "mengapa kah aku harus terpeleset dalam perjalanan ini?" "berapa banyak orang yg sudah terdzolimi atas jalan salah yang telah ku ambil"... hmmm & masih banyak pertanyaan2 lain yang senantiasa menggelayuti di saat ku merasa rapuh. Ya, itulah manusia. Makhluk Allah yang tidak senantiasa baik & juga tidak selalu buruk. Makhluk yang diciptakan Allah & dibekali dengan sebuah pilihan, jalan fujur atau jalan taqwa.
Saat ku merasa rapuh, alhamdulillah aku semakin dekat padaMu. Karena ku sebagai makhluk dhoif ini sangat membutuhkan tempat untuk bergantung.
Saat ku bergelimang kenikmatan, ku sempatkan untuk bersyukur kepadaMu. meski ku tahu itu tidak sebanding dengan semua nikmat yang telah kau beri.
Perjalanan ini akan berujung, hanya saja tidak pernah ku tahu kapan akan berakhir. Selagi masih bisa di tempuh, semoga menjadi lebih baik setiap saat. Menjadi orang yang bermanfaat bagi orang2 di sekitarku. Laa haula wa laa quwwata ila billah...
Belajar, belajar & terus belajar dari kesalahan yang telah dibuat. Belajar untuk tidak mengulangi dengan metode yang sama, belajar untuk membuat kesalahan yang tidak melanggar kode etik manusia. Kode etik yang sudah ditetapkan olehNya, halal haram.
Belajar, belajar, belajar hingga akhir hayat... Long life education, never ending learning.
Semangat agar dapat menjadi inspirasi bagi orang lain. Agar dapat mendorong orang lain untuk berbuat kebaikan. Kebaikan yang akan menjadi pembelajaran, kebaikan yang mampu menjadi penebar kasih sayang & kedamaian. Oh, indahnya hidup ini!
**bintaro, 22 april 2011
Semangat selalu menjadi lebih baik & bermanfaat.
Ya Allah, karuniakan kepada kami ilmu yang bermanfaaat, keturunan yang sholih.
Ya Allah mampukanlah kami untuk menjadi orang yang senantiasa memperbaiki diri.
Ya Allah mampukanlah kami untuk dapat menebar manfaat bagi semua makhlukMu.
Ya Allah ridhoilah jalan kami & pertemukanlah kami denganMu
Sungguh jalan-jalan yang telah kulalui tidak selalu mulus & lurus, justru sering mendaki & terjal Disitulah letak kenikmatan yang saat ini dapat dirasakan.
Jatuh bangun itu adalah hal yang biasa. Sakit memang pada saat terjatuh, tapi menjadi tak terasa saat mulai bangkit & berhasil bangun kemudian berdiri lagi.
Sesekali rasa sesal juga pernah terbit, "mengapa kah aku harus terpeleset dalam perjalanan ini?" "berapa banyak orang yg sudah terdzolimi atas jalan salah yang telah ku ambil"... hmmm & masih banyak pertanyaan2 lain yang senantiasa menggelayuti di saat ku merasa rapuh. Ya, itulah manusia. Makhluk Allah yang tidak senantiasa baik & juga tidak selalu buruk. Makhluk yang diciptakan Allah & dibekali dengan sebuah pilihan, jalan fujur atau jalan taqwa.
Saat ku merasa rapuh, alhamdulillah aku semakin dekat padaMu. Karena ku sebagai makhluk dhoif ini sangat membutuhkan tempat untuk bergantung.
Saat ku bergelimang kenikmatan, ku sempatkan untuk bersyukur kepadaMu. meski ku tahu itu tidak sebanding dengan semua nikmat yang telah kau beri.
Perjalanan ini akan berujung, hanya saja tidak pernah ku tahu kapan akan berakhir. Selagi masih bisa di tempuh, semoga menjadi lebih baik setiap saat. Menjadi orang yang bermanfaat bagi orang2 di sekitarku. Laa haula wa laa quwwata ila billah...
Belajar, belajar & terus belajar dari kesalahan yang telah dibuat. Belajar untuk tidak mengulangi dengan metode yang sama, belajar untuk membuat kesalahan yang tidak melanggar kode etik manusia. Kode etik yang sudah ditetapkan olehNya, halal haram.
Belajar, belajar, belajar hingga akhir hayat... Long life education, never ending learning.
Semangat agar dapat menjadi inspirasi bagi orang lain. Agar dapat mendorong orang lain untuk berbuat kebaikan. Kebaikan yang akan menjadi pembelajaran, kebaikan yang mampu menjadi penebar kasih sayang & kedamaian. Oh, indahnya hidup ini!
**bintaro, 22 april 2011
Semangat selalu menjadi lebih baik & bermanfaat.
Ya Allah, karuniakan kepada kami ilmu yang bermanfaaat, keturunan yang sholih.
Ya Allah mampukanlah kami untuk menjadi orang yang senantiasa memperbaiki diri.
Ya Allah mampukanlah kami untuk dapat menebar manfaat bagi semua makhlukMu.
Ya Allah ridhoilah jalan kami & pertemukanlah kami denganMu
Langganan:
Postingan (Atom)